Monday, August 15, 2011

contoh cerpen

Rambut Nina Karya: RF

bismillahirobbil 'alamin
ini tugas membuat cerpen sewaktu sma,, senangnya belajar bahasa indonesia :D
masa sma adlah masa bahagia :D:D:D


Pulang sekolah Nina langsung pergi ke kamarnya. Ia langsung melepas tas dan seragamnya di atas kasur dan melempar sepatunya sembarangan. Tujuannya adalah ke kamar mandi. Cuaca tadi di sekolah yang panas membuatnya berkeringat dan sangat kecapean. Ditambah dengan rambutnya yang sekarang sangat panjang teruai dan berminyak. Mandi adalah cara yang paling ampuh untuk membuang itu semua.
Ia mengambil handuk dan segera pergi ke kamar mandi.

Setelah mandi ia mengenakan piyama bermotip boneka beruang yang baru dibelikan mamanya seminggu yang lalu. Baju itu agak kebesaran dibadannya. Tangan dan kaki bajunya yang agak kepanjangan membuat tubuhnya yang mungil semakin bertambah mungil. Walaupun hari masih siang, ia tidak malu mengenakan baju piyama itu. Itu memang sudah kebiasaannya dari kecil. Dirumah hanya memakai baju tidur atau piyama saja. Teman-temannya saja sampai heran dengan kebiasaannya yang aneh ini.

Ia menghabiskan waktu hanya dengan nonton tv, membaca komik dan bermain game play station saja. Meskipun malas, namun prestasinya di sekolah baik. Ia masuk dalam juara 3 besar di kelasnya. Ia ranking 2. mungkin kalau dia mau meluangkan waktu sedikit saja untuk sekadar membaca buku atau belajar, dia akan menjadi nomor 1 di kelasnya. Sekarang ia masih duduk di kelas 1 di salah satu SMA negeri di Palembang.

Pukul delapan malam, waktunya untuk makan malam. Nina dan keluarganya makan bersama. Ditengah acara makan ia mengajak mamanya untuk ngobrol.
”Ma, jadi kan besok ke salonnya? Rambut Nina dah panjang banget nih. Dah panas. Pengen di potong!”. Tanya nina sambil mengunyah makanan yang ada di mulutnya.
“iya…. Udah ah kamu jangan bicara sambil makan. Tar keselek.” Kata mamanya.
“Tapi jadi ya Ma?”, katanya sambil mengambil gelas minumnya.
“Iya, iya, jangan rewel gitu ah. Habisin tuh makannya.”. (sambil membelai rambut anak dengan kasih sayang).
Mereka makan bertiga karena adiknya Ihsan yang baru berumur 2 tahun sudah tertidur. Sedangkan ayahnya kebetulan sedang ada tugas ke luar kota. Jadi tinggalah Nina, mamanya, dan satu-satunya kakak perempuannya.

Besoknya jan 13.00 Nina sudah siap untuk pergi ke salon. Ia sudah rapi memakai celana jeans dan kaos warna putih kesukaannya. Ia pun memanggil mamanya untuk pergi. Ia melihat mamanya yang belum bersiap-siap. Bahkan, mamanya masih mengenakan kaos rumahan seperti biasanya. Tampaknya ada tanda-tanda rencana bakal batal.
“Mama kok belum siap?”, katanya heran.
“Maaf ya sayang, mama ga bisa nemenin kamu motong rambut di salonnya. Kerjaan mama banyak banget. Piring belum di cuci. Baju juga belum di setrika. Ademu juga sekarang lagi nagis kan? Jadi kamu minta temenin kakakmu aja.”, kata mamanya membujuk.
“Kakak mau kan nemenin adek salon?” Tanya mamanya pada kakak Nina.
Ga mau, Ma. Aku lagi males jalan.”, kata kakaknya yang membuat hati Nina makin kecut seperti mukanya sekarang.
                                                  
Nina sangat kesal. Ingin rasanya ia marah pada mama dan kakaknya. Ia langsung mengambil gunting dan sisir keudian masuk ke kamarnya. Ia mengunci rapat-rapat kamarnya. Saat menutup pintu tadi, ia mendorong dan melemparnya kuat sehingga menciptakan bunyi yang sangat keras yang bisa didengar oleh orang serumahnya.
Ia kecewa pada mamanya karena sudah 3 kali ia meminta mamanya untuk mengantarkan ke salon. Tapi selalu saja terhalang oleh berbagai macam masalah. Inilah. Itulah. Ia pun hanya bisa menangis di atas kasurnya.

Kini ia sudah berada di depan kaca. Ia memandang rambut panjang sebahunya yang sudah lama ingin dipotongnya.Untuk apa nungguin besok-besok. Paling juga batal lagi. Kakak juga ga mau nemenin, mending aku potong sendiri aja rambutku. Biar mereka tahu. Kalo ga rata ya gapapa. Tinggal diratain dikit. Terserah mau gemana, katanya dalam hati Dengan kesal ia memotong rambut tersebut sendirian. Tanpa bantuan seorang pun. Baginya kaca saja sudah cukup.

Sedikit demi sedikit rambut itu dipotongnya. Mulai dari bagian bawah hingga bagian poni. Awalnya sih bagus-bagus saja. Tapi lama-kelamaan potongannya mulai tidak berbentuk. Yang bagus hanyalah poninya. Nina pun menyapu sisa-sisa potongan rambutnya. Kemudian ia keluar daari kamar.
“Ya Allah nak.. nak. Kamu ga sabaran ya. Motong rambut sendiri. Coba besok sama mama.”, kata mamanya terkaget-kaget.
“Dasar anak nekat kamu tuh. Ck ck ck.”, kata kakanya sambil geleng kepala.
Mendengar itu Nina hanya diam sambil terus cemberut pada dua orang tadi.

Besoknya di sekolah teman Nina kaget melihat rambut Nina yang sudah pendek tapi agak aneh.
“ Kamu motong rambut di salon mana?” Tanya Ria sahabatnya.
“Ada deh. Emang kenapa?”, sahut Nina santai.
“Jangan marah ya. Aneh aja. Rata sih potongannya. Tapi kayak ga bagus gitu. Kayak amatiran.” Jawab Ria menjelaskan.

Nina hanya tersenyum keki menahan malu. Mukanya memerah. Ia malu karena kecerobohannya dan ketidak sabarannya, rambutnya sekarang malah jadi jelek.
Jadi kalau mau pergi kemana-mana ia memakai topi untuk menutupi rambutnya. Tapi ia lebih sering mengikatnya ala kuncir kuda saja. Sambil menunggu rambutnya agar lebih panjang sedikit supaya bisa dipotong dengan mode yang lebih bagus dan trendy. Karena kalau dipotong sekarang rambutnya malah akan jadi pendek banget.

No comments:

Post a Comment